Kebun Teh Lawang, Kabupaten Malang
Episode: Jelajah Jalan
Setapak
Ternyata Bunga Teh dan Bunga Jambu itu,
tidak beda Jauh
AGROWISATA: PERKEBUNAN TEH DESA
WONOSARI, LAWANG, MALANG
Sedari pagi cauaca di kota Malang tak
pasti, sebentar panas sebentar mendung. Siang itu saya dan seorang sahabat (reoholik
juga) harap-harap cemas, setidaknya cukuplah mendung dan jangan sampai hujan
karena kami berencana untuk bermain ke perkebunan teh di daerah Lawang, Kabupaten
Malang. tidak sampai satu jam setelah menyusuri jalan kota Malang, Blimbing dan
Singhasari kami sudah sampai di daerah Lawang. Suhu ,memasuki daerah ini
awalnya biasa-biasa saja. Tapi setelah naik beberapa km ke atas saya menemui
pohon-pohon kelengkeng di halaman rumah penduduk yang kami lewati. Terlihat
poho-pohon tinggi itu berbuah bungkusan anyaman daun kelapa. Karena buah
kelengkeng di pohon tersebut harus dibungkus, mungkin agar cepat matang dan
jika jatuh tidak sembarangan ditemu orang. Maklumlah..harganya lumayan mahal.
Beberapa km ke atas saya menjumpai wisata agro buah naga, hati saya berkata
hanya memetik buah naga, bayar mahal lalu pulang saja sudah dikatakan berwisata
(apakah sesuai dengan cakupan arti konsep “berwisata” sendiri?) yang seingat
saya (saat mendapat mata kuliah antropologi pariwisata) di dalamnya mencakup
pergi ke tempat selain asalnya dan bersifat temporer serta sifatnya untuk refreshing. Entahlah, bukankah dalam hal
praktis definisi itu terkadang kabur. Saya rasa memang demikian.
apalagi
untuk yang berkantong tipis- (seperti saya hhhh).
Terbayang kedamaian bagi mereka yang
sedang galau, ingin menyendiri atau ingin merefresh pikiran, tempat ini bisa
jadi salah satu referensi. Satu bisikan yang saya dengar saat hendak berjalan
keluar dari deretan hijau di perkebunan teh
Pesan
dari bunga teh
Jika engkau datang ke sini aku yakin
kau bukanlah kumbang sekedar kumbang. Tapi kumbang dengan pesona dan keahlian
menghisap setiap bunga, juga kumbang yang bisa terbang di alam semesta. Karena
semesta ini bisa kau kendalikan dalam selipan sayapmu.
Biarkanlah dulu, aku dan bunga-bunga
lain melewati seribu musim. Teriknya matahari, derasnya hujan, dinginnya angin
malam dan kilatan halilintar. Aku ingin merekah serekah-rekahnya bunga,
menampakkan kelopak-kelopak lebarku, menyibak bulatan embun pagi, semerbak
dengan kekuatan dan kecantikan putihku. Sehingga bisa menunjukkan diriku yang
sebenarya, bahwa aku adalah seorang ratu diantara lautan daun.
Dan pada saat itulah aku dengan putih
dan kekuatanku, akan membuka lebar-lebar setiap kelopakku
Untukmu kumbang...
Salam
rea-reo!!! J
Salam Jingga piranada!
Stri nara iswari
Rupasampat
wahyabiantara
Komentar
Posting Komentar